Kisah Rabi’ah Al Adawiyah
Rabi’ah
al Adawiyah adalh salah seorang wanita sufi yang bertempat tinggal di Kota
Basrah. Dinamakan Rabi’ah karena ia punya empat saudara kandung dan ia adalah
yang nomor empat.
Pada
suatu saat datanglah Hasan Basri bersama kawannya kerumah Rabi’ah yang
bertujuan akan melamar Rabi’ah untuk dijadikan istrinya. Dengan nada yang
meyakinkan Hasan Basri mengucapkan salam kepada Rabi’ah. Seketika itu keluarlah
Rabi’ah dari kamarnya sambil menjawab salam dari Hasan Basri sambil menutupi
wajahnya dengan kain yang rapat ia memberi izin kepada Hasan Basri dan
kawan-kawannya untuk memasuki rumahnya dan mempersilahkan duduk. Dengan
perasaan senang dan percaya diri Hasan Basri langsung menyampaikan maksud dan
tujuannya yakni meminta Rabi’ah untuk dijadikan istrinya. Namun, apa jawab
Rabi’ah kepada Hasan Basri dan kawan-kawannya? Ternyata tidak seperti apa yang
mereka harapkan. Rabi’ah al Adawiyah malah bertanya, “Diantara kalian yang
datang kemari ini siapakah yang paling alim atau lebih pandai ilmu agama?”,
“Hasan Basri”, serentak mereka memberi jawaban.
“Wahai
Hasan Basri! Engkau adalah salah seorang yang lebih alim diantara kalian. Aku
akan mengajukan empat pertanyaan kepadamu, jika engkau dapat menjawab tentu aku
mau kau jadikan istrimu. Yang pertama, jika aku telah mati dan keluar dari
dunia, aku termasuk yang mati membawa iman atau tidak? Yang kedua, jika aku
berada di alam kubur dan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir, aku termasuk
orang yang bisa menjawab pertanyaan atau tidak? Yang ketiga, apabila hari
kiamat telah tiba dan semua orang berkumpul di padang mahsyar untuk menerima
buku catatan amalnya masing-masing, aku tergolong orang yang menerima dengan
tangan kanan atau tangan kiri? Yang keempat, apabila telah diserukan undangan
kepada dua golongan ahli surga dan neraka untuk masuk kedalam nya, maka aku
termasuk orang yang masuk surga atau neraka?”, tanya Rabi’ah al Adawiyah.
Terhadap
empat pertanyaan itu Hasan Basri satupun tidak dapat memberi jawaban, beliau
hanya mengatakan semua pertanyaanmu itu termasuk barang ghaib hanya Allah
sendiri yang tahu. Rabi’ah berkata, “Wahai Hasan Basri keempat pertanyaanku kamu
tidak bisa menjawab sekarang aku mengajukan satu pertanyaan saja kalau kamu
bisa menjawab aku mau kau jadikan istri. “Wahai Hasan Basri! Allah SWT. menjadikan
akal manusia, terbagi menjadi berapa bagian?”, sepontan Hasan Basri menjawab, “Menjadi
sepuluh bagian, sembilan diberikan kepada laki-laki dan satu akal diberikan
kepada orang perempuan.
“Dan
Allah menjadikan syahwat berapa bagian?”, lanjut Rab’iah. “Menjadi sepuluh
bagian pula, yaitu sembilan syahwat diberikan kepada orang perempuan dan satu
syahwat diberikan pada orang laki-laki”.
Jawaban
yang diberikan Hasan Basri itu ternyata benar, namun Rabi’ah belum menghentikan
pertanyaannya dan masih berkata, “Wahai Hasan Basri aku adalah seorang wanita,
aku dapat mencegah dan menjaga sembilan syahwatku hanya dengan satu akal,
tetapi mengapa kamu orang laki-laki kok tidak bisa mencegah satu syahwat dengan
sembilan akal?”. Mendengar pertanyaan Rabi’ah yang terakhir itu Hasan Basri
langsung menangis tersedu-sedu merasa malu pada Rabi’ah dan langsung pamit
pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar