Kisah Pak Nabis
Pada zaman dahulu hiduplah seorang laki-laki yang bernama Pak Nabis
yakni si pembongkar kuburan atau dikenal dengan sebutan Jayuf. Ia sering
membongkar kuburannya untuk dicuri isinya dan itu memang dijadikan suatu
pekerjaan untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Pekerjaan Pak Nabis seperti itu
sudah tersiar dimana-mana dan semasa hidupnya Pak Nabis itu hiduplah seorang
Qodli (Hakim) yang sholeh. Disaat ia sedang menderita sakit yang mendekati
ajalnya dipanggillah Pak Nabis itu untuk menghadapnya dan Qodli itupun
berpesan, “Wahai Pak Nabis! Saya dengar berita dari masyarakat bahwa anda itu
suka membongkar kuburan dan anda curi kain kafan si mayit yang di dalam
kuburan. Dan aku pada saat ini sedang sakit rupanya hampir mendekati ajalku dan
uang biaya untuk membeli kain kafan juga sudah ku persiapkan yang jumlahnya
sekian, untuk itu silahkan kau ambil saja uang yang sudah kusiapkan untuk beli
kain kafan itu, dan saya ikhlas kuberikan padamu, tapi aku pesan jika aku sudah
mati jangan kau bongkar kuburanku dan kau curi kain kafanku.”
Seketika itu Pak Nabis menjawab, “Baiklah Pak Qodli saya
ingat-ingat pesan tuan!” Setelah menerima uang sebesar harga kain kafan dari
Pak Qodli itu Pak Nabis pun langsung pamit pulang dan setibanya di rumah uang
itupun langsung diberikan kepada istrinya dan menceritakan pesan-pesan Pak
Qodli kepadanya. Istrinya langsung menjawab, “Kalu begitu hati-hatilah Pak,
pesan Pak Qodli itu laksanakan jangan kau curi kain kafannya.” Jangka waktu
beberapa hari tibalah berita tentang kematian Pak Qodli itu dan ia telah
selesai dikuburkan. Hati Pak Nabis mondar-mandir merasa kebingungan, “Wah
bagaimana ya baiknya? Saya curi apa
tidak! Kemarin Pak Qodli sudah pesan
tidak boleh dicuri kain kafannya, tapi kalau tidak saya curi uang belanja
istriku sudah habis. Wah kalau begitu lebih baik saya curi saja dan lagi kain
kafan Pak Qodli itu kainnya mesti yang mahal.
Berangkatlah Pak Nabis menuju kuburan dan dibongkarlah makam Pak
Qodli itu. Ketika pembongkaran sudah menembus ke dalam dilihatnya mayat Pak
Qodli itu telah duduk disana ada dua malaikat. Pak Nabis pun sempat
mendengarkan perbincangan kedua malaikat tersebut. Malaikat pertama berkata
kepada malaikat yang kedua, “Ciumlah kedua kakinya”. Malaikat kedua lalu
mencium kaki Qodli. Katanya, “Tidak ku dapat bau sesuatu”. “Dan ciumlah kedua
tangannya”. Lalu malaikat kedua mencium kedua tangan Pak Qodli dan ia berkata,
“Tidak ku dapati bau sesuatu apapun ditangannya”. “Lalu ciumlah kedua matanya”.
Malaikat kedua itu berkata, “Tidak ku dapati bau sesuatu pada kedua matanya”.
“Dan ciumlah kedua telinganya”. Lalu malikat kedua itu mencium kedua telinga
Pak Qodli itu berkata, “Telinga yang
satu kudapati bau harum telinga yang satu kudapati bau yang busuk”. Sesungguhnya
Qodli ini mendengarkan dengan salah satu telinganya pada dua orang yang
bertikai dan ia condong pada salah seorang, seorang yang lain tidak digubris
dan ia menangkan salah satunya. Akhirnya teling Pak Qodli itu membengkak dan
menyemburkan api yang menjilat-jilat memenuhi kuburan lalu api itu menyambar
mata Pak Nabis sehingga matanya buta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar