Kamis, 12 Februari 2015

Kisah Pak Nabis



Kisah Pak Nabis
Pada zaman dahulu hiduplah seorang laki-laki yang bernama Pak Nabis yakni si pembongkar kuburan atau dikenal dengan sebutan Jayuf. Ia sering membongkar kuburannya untuk dicuri isinya dan itu memang dijadikan suatu pekerjaan untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Pekerjaan Pak Nabis seperti itu sudah tersiar dimana-mana dan semasa hidupnya Pak Nabis itu hiduplah seorang Qodli (Hakim) yang sholeh. Disaat ia sedang menderita sakit yang mendekati ajalnya dipanggillah Pak Nabis itu untuk menghadapnya dan Qodli itupun berpesan, “Wahai Pak Nabis! Saya dengar berita dari masyarakat bahwa anda itu suka membongkar kuburan dan anda curi kain kafan si mayit yang di dalam kuburan. Dan aku pada saat ini sedang sakit rupanya hampir mendekati ajalku dan uang biaya untuk membeli kain kafan juga sudah ku persiapkan yang jumlahnya sekian, untuk itu silahkan kau ambil saja uang yang sudah kusiapkan untuk beli kain kafan itu, dan saya ikhlas kuberikan padamu, tapi aku pesan jika aku sudah mati jangan kau bongkar kuburanku dan kau curi kain kafanku.”
Seketika itu Pak Nabis menjawab, “Baiklah Pak Qodli saya ingat-ingat pesan tuan!” Setelah menerima uang sebesar harga kain kafan dari Pak Qodli itu Pak Nabis pun langsung pamit pulang dan setibanya di rumah uang itupun langsung diberikan kepada istrinya dan menceritakan pesan-pesan Pak Qodli kepadanya. Istrinya langsung menjawab, “Kalu begitu hati-hatilah Pak, pesan Pak Qodli itu laksanakan jangan kau curi kain kafannya.” Jangka waktu beberapa hari tibalah berita tentang kematian Pak Qodli itu dan ia telah selesai dikuburkan. Hati Pak Nabis mondar-mandir merasa kebingungan, “Wah bagaimana  ya baiknya? Saya curi apa tidak!  Kemarin Pak Qodli sudah pesan tidak boleh dicuri kain kafannya, tapi kalau tidak saya curi uang belanja istriku sudah habis. Wah kalau begitu lebih baik saya curi saja dan lagi kain kafan Pak Qodli itu kainnya mesti yang mahal.
Berangkatlah Pak Nabis menuju kuburan dan dibongkarlah makam Pak Qodli itu. Ketika pembongkaran sudah menembus ke dalam dilihatnya mayat Pak Qodli itu telah duduk disana ada dua malaikat. Pak Nabis pun sempat mendengarkan perbincangan kedua malaikat tersebut. Malaikat pertama berkata kepada malaikat yang kedua, “Ciumlah kedua kakinya”. Malaikat kedua lalu mencium kaki Qodli. Katanya, “Tidak ku dapat bau sesuatu”. “Dan ciumlah kedua tangannya”. Lalu malaikat kedua mencium kedua tangan Pak Qodli dan ia berkata, “Tidak ku dapati bau sesuatu apapun ditangannya”. “Lalu ciumlah kedua matanya”. Malaikat kedua itu berkata, “Tidak ku dapati bau sesuatu pada kedua matanya”. “Dan ciumlah kedua telinganya”. Lalu malikat kedua itu mencium kedua telinga Pak Qodli itu  berkata, “Telinga yang satu kudapati bau harum telinga yang satu kudapati bau yang busuk”. Sesungguhnya Qodli ini mendengarkan dengan salah satu telinganya pada dua orang yang bertikai dan ia condong pada salah seorang, seorang yang lain tidak digubris dan ia menangkan salah satunya. Akhirnya teling Pak Qodli itu membengkak dan menyemburkan api yang menjilat-jilat memenuhi kuburan lalu api itu menyambar mata Pak Nabis sehingga matanya buta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar