Kamis, 19 Februari 2015

Kisah Rabi’ah Al Adawiyah



Kisah Rabi’ah Al Adawiyah
Rabi’ah al Adawiyah adalh salah seorang wanita sufi yang bertempat tinggal di Kota Basrah. Dinamakan Rabi’ah karena ia punya empat saudara kandung dan ia adalah yang nomor empat.
Pada suatu saat datanglah Hasan Basri bersama kawannya kerumah Rabi’ah yang bertujuan akan melamar Rabi’ah untuk dijadikan istrinya. Dengan nada yang meyakinkan Hasan Basri mengucapkan salam kepada Rabi’ah. Seketika itu keluarlah Rabi’ah dari kamarnya sambil menjawab salam dari Hasan Basri sambil menutupi wajahnya dengan kain yang rapat ia memberi izin kepada Hasan Basri dan kawan-kawannya untuk memasuki rumahnya dan mempersilahkan duduk. Dengan perasaan senang dan percaya diri Hasan Basri langsung menyampaikan maksud dan tujuannya yakni meminta Rabi’ah untuk dijadikan istrinya. Namun, apa jawab Rabi’ah kepada Hasan Basri dan kawan-kawannya? Ternyata tidak seperti apa yang mereka harapkan. Rabi’ah al Adawiyah malah bertanya, “Diantara kalian yang datang kemari ini siapakah yang paling alim atau lebih pandai ilmu agama?”, “Hasan Basri”, serentak mereka memberi jawaban.
“Wahai Hasan Basri! Engkau adalah salah seorang yang lebih alim diantara kalian. Aku akan mengajukan empat pertanyaan kepadamu, jika engkau dapat menjawab tentu aku mau kau jadikan istrimu. Yang pertama, jika aku telah mati dan keluar dari dunia, aku termasuk yang mati membawa iman atau tidak? Yang kedua, jika aku berada di alam kubur dan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir, aku termasuk orang yang bisa menjawab pertanyaan atau tidak? Yang ketiga, apabila hari kiamat telah tiba dan semua orang berkumpul di padang mahsyar untuk menerima buku catatan amalnya masing-masing, aku tergolong orang yang menerima dengan tangan kanan atau tangan kiri? Yang keempat, apabila telah diserukan undangan kepada dua golongan ahli surga dan neraka untuk masuk kedalam nya, maka aku termasuk orang yang masuk surga atau neraka?”, tanya Rabi’ah al Adawiyah.
Terhadap empat pertanyaan itu Hasan Basri satupun tidak dapat memberi jawaban, beliau hanya mengatakan semua pertanyaanmu itu termasuk barang ghaib hanya Allah sendiri yang tahu. Rabi’ah berkata, “Wahai Hasan Basri keempat pertanyaanku kamu tidak bisa menjawab sekarang aku mengajukan satu pertanyaan saja kalau kamu bisa menjawab aku mau kau jadikan istri. “Wahai Hasan Basri! Allah SWT. menjadikan akal manusia, terbagi menjadi berapa bagian?”, sepontan Hasan Basri menjawab, “Menjadi sepuluh bagian, sembilan diberikan kepada laki-laki dan satu akal diberikan kepada orang perempuan.
“Dan Allah menjadikan syahwat berapa bagian?”, lanjut Rab’iah. “Menjadi sepuluh bagian pula, yaitu sembilan syahwat diberikan kepada orang perempuan dan satu syahwat diberikan pada orang laki-laki”.
Jawaban yang diberikan Hasan Basri itu ternyata benar, namun Rabi’ah belum menghentikan pertanyaannya dan masih berkata, “Wahai Hasan Basri aku adalah seorang wanita, aku dapat mencegah dan menjaga sembilan syahwatku hanya dengan satu akal, tetapi mengapa kamu orang laki-laki kok tidak bisa mencegah satu syahwat dengan sembilan akal?”. Mendengar pertanyaan Rabi’ah yang terakhir itu Hasan Basri langsung menangis tersedu-sedu merasa malu pada Rabi’ah dan langsung pamit pulang.

Kisah Orang Yang Izin Berzina



Orang Yang Izin Berzina
Rasulullah SAW. adalah salah seorang yang terkenal kesabarannya. Beliau tidak pernah berbuat keras meskipun kepada orang benci kepadanya. Pada suatu saat beliau sedang berkumpul dengan para jama’ah dari sahabat-sahabatnya dan hendak menyampaikan masalah ilmu agama, tiba-tiba datanglah kepadanya seorang pemuda dengan tergesa-gesa dan mendekati Rasulullah lalu berkata, “Wahai Rasulullah izinkanlah aku untuk melakukan zina”.
Mendengar kata-kata seorang pemuda itu para jama’ah marah-marah dan menghardiknya sambil berkata, “Wahai pemuda! bicara apa kamu itu? Di sini adalah tempat Majelis Ta’lim bukan rundingan maksiat seperti pembicaraanmu itu!”.
Melihat para jama’ah yang menghardik seorang pemuda dengan kasar itu, lalu Rasulullah berkata sebaliknya, yakni dengan halus dan tutur kata yang lembut. “Wahai pemuda! Mendekatlah kamu kepadaku”, kata Rasulullah dengan penuh kasih. “Apakah kamu senang jika ibumu dizinai orang?”, lanjutnya setelah pemuda itu mendekat kepada Rasulullah.
“Demi Allah tentu tidak senang”, jawab pemuda itu. “Begitu juga dengan orang lain tentu sangat tidak senang jika ibunya dizinai orang”, sahut Rasulullah. “Apa kamu senang jika anak gadismu dizinai orang?”, “Demi Allah tentu tidak senang”, jawab pemuda itu. “Begitu juga dengan orang lain tentu tidak senang kalau anak gadisnya dizinai orang”, sahut Rasulullah. “Apakah kamu senang jika saudara permpuanmu dizinai orang?, lanjutnya.
“Demi Allah tentu tidak senang”, jawab pemuda itu. “Begitu juga dengan orang lain tentu tidak senang jika saudara perempuannya dizinai orang”, sahut Rasulullah. “Apakah kamu senang jika bibimu dizinai orang?”, lanjut Rasulullah.
“Demi Allah tentu tidak senang”, jawab pemuda itu. “Begitu juga dengan orang lain tentu tidak berbeda seperti kamu jika ibunya, saudara perempuannya atau bibinya dizinai orang tentu tidak senang”, jelas Rasulullah. Setelah mendengar semua jawaban dari pemuda itu lalu Rasulullah melanjutkan kata-katanya dengan lemah lembut, sopan dan tidak marah sambil meletakkan tangannya di atas pundak pemuda itu. “Maka janganlah kamu berbuat zina. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, mensucikan hatimu dan memelihara kemaluanmu, takutlah kepada Allah dimana saja kamu berada”.
Mendengar ucapan Rasulullah seperti itu pemuda tadi terketuk hatinya kemudian ia bertaubat dan tidak punya keinginan untuk berzina lagi.

Kisah Nabi Ya'kub dan Malaikat Maut



Nabi Ya’kub dan Malaikat Maut
Nabi Ya’kub adalah putra Nabi Ishaq bin Ibrahim, beliau diutus oleh Allah menyampaikan agama di negeri Kan’an.
Dalam kehidupannya sebagaimana masyarakat biasa pada umumnya, beliau bercocok taam dan beternak. Karena hidupnya yang sangat sederhana ini banyak orang yang tidak percaya terhadap misi kenabian yang dibawanya.
Pada suatu saat sedang berada dirumahnya, pernah didatangi oleh malaikat maut yaitu malaikat Izra’il. Malaikat Izra’il mengucapkan salam kepada Nabi Ya’kub dan Nabi Ya’kub menjawabnya.
Dan Nabi Ya’kub bertanya, “Wahai saudaraku! Engkau datang kemari untuk bersilaturahmi atau atau mencabut nyawaku?”. “Aku datang kemari untuk bersilaturahmi”, jawab Malaikat Izra’il. “Kalau begitu aku berpesan kepadamu wahai saudaraku, sewaktu-waktu nanti kamu diutus Allah untuk mencabut nyawaku, tolong aku diberi kabar lebih dulu supaya aku bersiap-siap”, kata Nabi Ya’kub.
“Oh tentu, sewaktu-waktu jika Allah mengutus kepadaku untuk mencabut nyawamu pasti aku akan mengirim tiga atau empat utusan kepadamu untuk memberi kabar akan datangnya kematianmu”, kata malaikat Izra’il. “Kalau begitu aku ucapkan terima kasih”, sahut Nabi Ya’kub. Lalu malaikat Izra’il meninggalkan Nabi Ya’kub.
Beberapa tahun kemudian malaikat maut datang lagi menemui Nabi Ya’kub, seperti dahulu Nabi Ya’kub bertanya “Wahai saudaraku engkau datang ingin bersilaturahmi atau ingin mencabut nyawaku?”, “Aku datang kemari ingin mencabut nyawamu”, jawab malaikat maut. Mendengar jawaban malaikat maut itu Nabi Ya’kub langsung terkejut sambil berkata, “Lho..!! dulu kamu kan sudah berjanji kepadaku, jika swaktu-waktu kamu sudah diutus oleh Allah untuk mencabut nyawaku, kamu akan mengirim tiga atau empat utusan untuk memberi kabar kepadaku kenapa sekarang utusan itu belum datang dan kamu kok sudah datang untuk mencabut nyawaku?”.
Malaikat maut menjawab, “Wahai saudaraku! Bukankah sejak dulu aku sudah mengirim utusan-utusanku kepadamu untuk memberi kabar dekatnya kematianmu? Dan mengapa kamu tidak merasa tahu, kalu empat utusanku sudah datang kepadamu dan sudah berada padamu?”, jawab malaikat maut menjelaskan. “Coba sebutkan empat utusanmu itu kepadaku sebelum aku menyerah.”, lalu malaikat maut memberi penjelasan kepada Nabi Ya’kub dengan nada setia, “Wahai saudaraku empat utusanku padamu diantaranya” :
1.      Memutihnya rambutmu itu sebagai utusanku kepadamu.
2.      Membungkuknya bandanmu itu sebagai utusanku kepadamu.
3.      Mengusutnya kulitmu itu sebagai utusanku kepadamu.
4.      Kempongnya gigimu itu sebagai utusanku kepadamu.
Dengan adanya keterangan dari malaikat maut seperti itu Nabi Ya’kub langsung menyerah.

Kamis, 12 Februari 2015

Kisah Abu Nawas Mengadakan Walimah



ABU NAWAS MENGADAKAN WALIMAH
Abu Nawas adalah orang yang paling terkenal ahli dibidang politik, pun juga mempunyai istri yang cantik.
Pada suatu saat ketika ia sedang keluar berjalan-jalan bersama istrinya banyak orang laki-laki yang melihatnya dengan mata melotot, banyak pula yang menggoda istrinya. Setiap istrinya keluar rumah banyak orang laki-laki menaruh perhatian karena kecantikannya dan berteriak-teriak, “Biyuh-biiyuh mendah ya... mendah ya... anunya... rasanya...!” Hal itu dilakukan sampai berulangkali.
Lama-lama Abu Nawas timbul rasa marah dan tidak tenang hatinya. Sebenarnya ia juga sudah menyadari bahwa orang-orang yang berteriak seperti itu dalam hatinya kurang ada yang memberi pitutur atau pengarahan. Akhirnya Abu Nawas berusaha untuk mengumpulkan mereka, yaitu dengan cara mengadakan “Walimahan”.
Semua orang yang biasa menggoda istrinya itu diundang, tidak ada satupun yang ketinggalan. Namun dalam memberi hidangan atau menyuguh para undangan itu Abu Nawas membuat kue-kue raoti pokis. Semua yang hadir diberi hidangan satu macam kue-kue pokis tersebut namun diberi dengan warna yang berbeda-beda, setiap satu piring satu warna tapi rasanya sama.
Setelah undangannya hadir semua dan menduduki kursi yang sudah disediakan, Abu Nawas  langsung mempersilahkan menikmati hidangan yang sudah tersedia di hadapan masing-masing. Setelah mereka menikmati hidangan yang ada di hadapannya ternyata masih kurang puas. Yang tadinya makan roti pokis berwarna merah masih berkeinginan makan yang berwarna hijau. Dan yang tadinya makan yang berwarna hijau masih ingin makan yang berwarna putih dan lain sebagainya. Abu Nawas terus mempersilahkan makan yang berwarna apa saja boleh, bebas dan sepuas-puasnya. Tapi para hadirin menjawab, meskipun warnanya berbeda-beda rasanya sama tetap roti pokis. Lalu Abu Nawas berkata kepada para hadirin, “Sebenarnya kamu semua juga punya roti pokis sendiri-sendiri tapi masih biasa mengharapkan miliknya orang lain. Oleh karena itu nikmatilah istri-istrimua sepuas-puasnya jangan melirik-lirik istri orang lain. Sebenarnya kamu semua sudah punya istri saya juga punya istri, milikmu dan milikku rasanya sama saja. Maka janganlah suka menggoda istri orang lain”.

Kisah Pak Nabis



Kisah Pak Nabis
Pada zaman dahulu hiduplah seorang laki-laki yang bernama Pak Nabis yakni si pembongkar kuburan atau dikenal dengan sebutan Jayuf. Ia sering membongkar kuburannya untuk dicuri isinya dan itu memang dijadikan suatu pekerjaan untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Pekerjaan Pak Nabis seperti itu sudah tersiar dimana-mana dan semasa hidupnya Pak Nabis itu hiduplah seorang Qodli (Hakim) yang sholeh. Disaat ia sedang menderita sakit yang mendekati ajalnya dipanggillah Pak Nabis itu untuk menghadapnya dan Qodli itupun berpesan, “Wahai Pak Nabis! Saya dengar berita dari masyarakat bahwa anda itu suka membongkar kuburan dan anda curi kain kafan si mayit yang di dalam kuburan. Dan aku pada saat ini sedang sakit rupanya hampir mendekati ajalku dan uang biaya untuk membeli kain kafan juga sudah ku persiapkan yang jumlahnya sekian, untuk itu silahkan kau ambil saja uang yang sudah kusiapkan untuk beli kain kafan itu, dan saya ikhlas kuberikan padamu, tapi aku pesan jika aku sudah mati jangan kau bongkar kuburanku dan kau curi kain kafanku.”
Seketika itu Pak Nabis menjawab, “Baiklah Pak Qodli saya ingat-ingat pesan tuan!” Setelah menerima uang sebesar harga kain kafan dari Pak Qodli itu Pak Nabis pun langsung pamit pulang dan setibanya di rumah uang itupun langsung diberikan kepada istrinya dan menceritakan pesan-pesan Pak Qodli kepadanya. Istrinya langsung menjawab, “Kalu begitu hati-hatilah Pak, pesan Pak Qodli itu laksanakan jangan kau curi kain kafannya.” Jangka waktu beberapa hari tibalah berita tentang kematian Pak Qodli itu dan ia telah selesai dikuburkan. Hati Pak Nabis mondar-mandir merasa kebingungan, “Wah bagaimana  ya baiknya? Saya curi apa tidak!  Kemarin Pak Qodli sudah pesan tidak boleh dicuri kain kafannya, tapi kalau tidak saya curi uang belanja istriku sudah habis. Wah kalau begitu lebih baik saya curi saja dan lagi kain kafan Pak Qodli itu kainnya mesti yang mahal.
Berangkatlah Pak Nabis menuju kuburan dan dibongkarlah makam Pak Qodli itu. Ketika pembongkaran sudah menembus ke dalam dilihatnya mayat Pak Qodli itu telah duduk disana ada dua malaikat. Pak Nabis pun sempat mendengarkan perbincangan kedua malaikat tersebut. Malaikat pertama berkata kepada malaikat yang kedua, “Ciumlah kedua kakinya”. Malaikat kedua lalu mencium kaki Qodli. Katanya, “Tidak ku dapat bau sesuatu”. “Dan ciumlah kedua tangannya”. Lalu malaikat kedua mencium kedua tangan Pak Qodli dan ia berkata, “Tidak ku dapati bau sesuatu apapun ditangannya”. “Lalu ciumlah kedua matanya”. Malaikat kedua itu berkata, “Tidak ku dapati bau sesuatu pada kedua matanya”. “Dan ciumlah kedua telinganya”. Lalu malikat kedua itu mencium kedua telinga Pak Qodli itu  berkata, “Telinga yang satu kudapati bau harum telinga yang satu kudapati bau yang busuk”. Sesungguhnya Qodli ini mendengarkan dengan salah satu telinganya pada dua orang yang bertikai dan ia condong pada salah seorang, seorang yang lain tidak digubris dan ia menangkan salah satunya. Akhirnya teling Pak Qodli itu membengkak dan menyemburkan api yang menjilat-jilat memenuhi kuburan lalu api itu menyambar mata Pak Nabis sehingga matanya buta.