Kamis, 29 Januari 2015

Kisah Penjual dan Pembeli Tanah

KISAH PENJUAL DAN PEMBELI TANAH
        Rasulullah pada suatu saat berkumpul dengan para sahabatnya dan menceritakan kisah dua orang laki-laki yang berjual beli sebidang tanah.
        Dua orang tersebut setelah bermusyawarah dan bersepakat tentang harga yang sudah ditentukan si pembeli langsung menyerahkan uang kepada si penjual. Lalu pada suatu hari tanah tersebut oleh si pembeli digali untuk buat sumur dan didirikan bangunan, ternyata di dalam tanah yang digali itu ditemukan sebuah jun besar yang berisi emas terpendam di dalamnya. Akhirnya jun dan emas itu oleh si pembeli diambil dan diberikan kepada si penjual dengan alasan hanya membeli sebidang tanah.

        Namun apa gerangan kata si penjual, “Tidak! Emas ini sudah menjadi milikmu”. “Tidak”, kata si pembeli. “Aku hanya membeli sebidang tanahnya saja”. Kemudian terjadilah perdebatan dan saling beda pendapat diantara mereka, sehingga keduanya mengadukan masalanya kepada Hakim untuk diadili.
Setelah terjadidialog antara mereka berdua dengan Hakim ternyata Hakim gampang saja memutuskan perkara itu. Namun sebelum Hakim memberi keputusan tentang siapa yang harus dimenangkan dan siap dikalahkan dipanggillah kedua orang itu untuk menghadap Hakim. Lalu Hakim bertanya, “Kamu, wahai si pembeli tanah! Punya anak laki-laki atau tidak?”

        “Punya”, jawab si pembeli.
        “Dan kamu, si penjual! Punya anak perempuan atau tidak?”
        “Punya”, jawab si penjual tanah.
        “Kalau begitu aku putuskan kawinkan saja kedua anak kalian, dan emas itu berikanlah kepada kedua anak kalian agar dapat saling memiliki”.

        Akhirnya kedua orang itu, si pembeli dan si penjual sepakat menjadi besan dan emas itupun langsung diberikan kepada anak mereka berdua.


Kisah ini menunjukkan ke-zuhud-an si penjual dan si pembeli tanah. Harta bukanlah segalanya.

Kisah Ibnu Hajar

KISAH IBNU HAJAR
        Ibnu Hajar adalah sosok yang patut diteladani bagi para santri di Pondok Pesantren dalam ketelatenannya. Pada asal mulanya beliau adalah orang yang sangat bodoh dan tidak cerdas pikirannya, beliau bermukim di Pondok Pesantren sudah beberapa tahun, tapi ia merasa belum menghasilkan apapun, bahkan teman-teman sesamanya sudah tamat dari pelajarannya masing-masing, tapi ia masih dalam tingkatan kelas paling rendah.

        Melihat keadaan seperti itu Ibnu Hajar putus asa, apalagi mengingat usianya semakin tua dan jenggotnyapun sudah panjang. Dalam pikirnya ia berkata, “Wah daripada lama-lama di Pondok tetap begini saja, lebih baik pulang (boyong).” Dan seketika itu pula ia berangkat menuju rumah sambil membawa barang-barangnya. Kemudian atas sifat Qudrat dan Iradah Allah SWT. di tengah perjalanturunlah hujan yang lebat Ibnu Hajar jadi kalang kabut kebingungan sebab ia membawa barang bawaannya yang cukup banyak, lalu ia berteduh di bawah pohon yang besar. Rasa cemas dan penuh penyesalan menghantui dirinya, di bawah pohon itu ia termenung sambil redanya hujan, kemudian atas kekuasaan Allah tampaklah didekatnya ada sebuah batu yang besar hanya dengan tetesan air yang turun dari atas pohon menatap batu yang besar dan keras itu lama-lama batu itu berlubang, semakin banyak air yang menetes semakin besar pula lubangnya batu itu. Melihat hal seperti itu Ibnu Hajar terkesima, beliau merenung, berfikir dan akhirnya mengambil satu kesimpulan bahwa batu yang keras dan besar itu saja bisa berlubang karena tetesan air, masa pikiranku yang bodoh dan tumpul ini lama-lama tidak pintar dan tajam kalau disiram dengan ilmu terus-menerus?

        “Wah, kalau begitu aku kembali saja ke Pondok daripada nanti aku pulang belum membawa ilmu, apalagi kalau dirumah banyak masyarakat yang bertanya-tanya”, pikirnya ketika itu. Maka kembalilah Ibnu Hajar ke Pondoknya lagi dengan tekad dan semangat serta penuh rasa tawakal kepada Allah dan berkah ketelatenannya serta cita-cita yang tinggi, Ibnu Hajar lama-lama bertambah pintar dan berhasillah beliau menjadi orang yang alim dan pulang dari Pondok membawa ilmu yang banyak dan disebut “IBNU HAJAR” karena peristiwa batu tersebut.


Inilah kisah seorang alim ahli hadits dari tanah Ashkelon Palestina, Ibnu Hajar al 'Asqalani. Kisah ini mengajari kita untuk tidak mudah putus asa dan terus berjuang dan pantang menyerah.


"Umur bukanlah penghalang untuk mencari ilmu"

Rabu, 28 Januari 2015